Fenomena sound horeg belakangan ini marak mencuri perhatian publik, terutama di media sosial. Dari gang sempit hingga jalanan desa, suara dentuman musik keras yang keluar dari speaker rakitan mobil pick-up atau motor modifikasi, menghiasi berbagai momen warga seperti hajatan, pawai, hingga konvoi pemuda keliling kampung. Sekilas, ini terlihat sebagai bentuk hiburan rakyat—tapi di balik itu, ada kontroversi yang tak bisa diabaikan.
Istilah “sound horeg” berasal dari gabungan kata “sound system” dan “horeg”, yang secara kasual menggambarkan suara yang pecah, berisik, dan tak jarang terlalu keras. Biasanya, sound system ini dirakit secara swadaya, menggunakan speaker besar yang diletakkan di atas kendaraan bahkan sampai diletkan diatas kapal. Tujuannya? Tentu untuk menarik perhatian, meningkatkan suasana ramai, dan kadang hanya sekadar pamer suara antar kelompok pemuda.
Namun, di era digital seperti sekarang, sound horeg tidak berhenti di jalanan saja. Banyak konten kreator mengangkat fenomena ini ke TikTok, YouTube, hingga Instagram. Hasilnya? Suara-suara “pecah” itu justru jadi tren. Tak sedikit lagu remix lokal, terutama koplo dan dangdut, menjadi viral karena dijadikan backsound video sound horeg.
Dari sisi budaya, sound horeg bisa dilihat sebagai bentuk ekspresi komunitas akar rumput. Ini adalah cara anak-anak muda di daerah merayakan kreativitas mereka dalam dunia audio, meski tanpa peralatan mahal. Mereka merakit, mengatur tata suara, dan memainkan lagu-lagu dengan cara mereka sendiri.
Namun, di sisi lain, kemunculan sound horeg juga memunculkan resah di tengah masyarakat. Banyak warga mengeluhkan kebisingan yang mengganggu jam istirahat,sampai merusak fasilitas warga bahkan pemerintah terutama saat acara berlangsung hingga larut malam. Beberapa wilayah bahkan mulai menerapkan larangan keras terhadap penggunaan sound horeg dalam event publik tanpa izin.
Di beberapa kasus, fenomena ini juga menimbulkan bentrokan antar kelompok pemuda karena “adu sound”, yang seringkali merembet pada konflik kecil hingga perkelahian.
Fenomena sound horeg mencerminkan dilema budaya populer: bagaimana ekspresi kebebasan berkreasi sering kali berbenturan dengan norma sosial dan aturan kenyamanan publik. Di satu sisi, ada semangat komunitas dan budaya lokal yang hidup. Di sisi lain, ada kebutuhan akan keteraturan dan ketenangan dalam kehidupan bermasyarakat.
Pemerintah daerah dan aparat keamanan pun mulai mencari jalan tengah. Beberapa wilayah mengatur jam operasional sound horeg, meminta izin tertulis, atau menyalurkan kegiatan ini dalam bentuk festival resmi agar tetap terkontrol namun tidak mematikan kreativitas anak muda.
Sound horeg adalah potret nyata dari kehidupan jalanan Indonesia: liar tapi kreatif, gaduh tapi penuh semangat. Bagaimana kita merespons fenomena ini akan menentukan apakah ia akan terus berkembang sebagai budaya jalanan yang positif atau justru menjadi sumber gangguan yang terus menuai kontroversi.
Artikel Kiriman: Dita (jbg)